Tinjauan Hubungan Pola Asuh Otoriter dengan Kecenderungan Bunuh Diri dan Menyakiti Diri pada Remaja di Asia serta Kaitannya dengan Normativitas Budaya

Authors

  • Stephanus Rahardian Hersacra Nudu Program Studi Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Author https://orcid.org/0009-0009-2961-5395
  • Audrey Esther Winona Pakpahan Program Studi Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Author
  • Cokorda Bagus Jaya Lesmana Departement Psikiatri, Universitas Udayana, Denpasar, Indonesia Author https://orcid.org/0000-0001-6804-9255

Keywords:

Authoritarian parenting, Non-suicidal self-injury, Remaja Asia, Pola Asuh, Bunuh Diri

Abstract

Bunuh diri termasuk penyebab kematian utama pada remaja, dan lingkungan pengasuhan keluarga merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kerentanannya. Pola asuh otoriter, yang ditandai tuntutan tinggi dan kehangatan rendah serta kerap melibatkan penolakan, hukuman keras, dan kontrol psikologis, lazim dianggap normatif secara budaya di Asia sehingga kadang dipandang tidak merugikan. Bukti mengenai kaitan pola asuh otoriter dengan perilaku bunuh diri remaja di kawasan ini masih tersebar dan belum dirangkum secara sistematis. Tinjauan lingkup ini bertujuan memetakan bukti tentang hubungan antara pola asuh otoriter dan perilaku bunuh diri, termasuk menyakiti diri tanpa niat bunuh diri (NSSI), pada remaja di Asia Timur, Asia Tenggara, dan Asia Selatan, beserta faktor mediator dan moderatornya. Dengan kerangka Arksey dan O'Malley, disempurnakan oleh Levac et al., dan pelaporan sesuai PRISMA-ScR, pencarian dilakukan pada PubMed, Scopus, dan Google Scholar untuk artikel berbahasa Inggris terbitan 2020 hingga Mei 2026 tanpa filter geografis. Tiga penelaah menyaring studi secara independen dalam dua tahap, dan data disintesis secara naratif-tematik. Dari proses ini, 20 studi memenuhi kriteria inklusi, dengan 18 berasal dari Tiongkok dan dua dari Korea Selatan, tanpa satu pun studi dari Asia Tenggara maupun Asia Selatan. Desain didominasi potong lintang (n=13), dengan empat studi longitudinal dan tiga studi kasus-kontrol. Seluruh studi menunjukkan arah risiko, dan tidak ada yang menemukan efek protektif atau netral. Dua belas studi mengidentifikasi mediator yang membentuk rantai kerentanan bertingkat, mulai dari gejala depresi dan harga diri, terganggunya regulasi emosi, hingga melemahnya dukungan sosial, dengan regulasi emosi sebagai jalur yang paling konsisten. Enam studi mengidentifikasi moderator, termasuk mindfulness, dukungan sekolah, kontrol diri, dan gender, dengan remaja perempuan tampak lebih terpengaruh melalui gaya koping negatif. Instrumen pengukuran pola asuh sangat heterogen, lebih dari sembilan jenis termasuk instrumen dengan hanya satu item. Dalam konteks Asia Timur, pola asuh otoriter konsisten berasosiasi dengan peningkatan risiko bunuh diri remaja, dan klaim efek protektif yang didasarkan pada normativitas budaya tidak terkonfirmasi. Regulasi emosi merupakan target intervensi yang paling dapat dimodifikasi, sementara dominasi data dari satu kawasan dan keragaman instrumen menyisakan kesenjangan yang perlu diisi oleh studi longitudinal dan lintas negara.

Published

2026-07-30