Delirium akibat Proses Intrakranial pada Pasien dengan Melanoma Maligna Metastasis: Sebuah Laporan Kasus
Keywords:
Delirium, Melanoma Maligna, Metastasis Otak, Proses Intrakranial, HaloperidolAbstract
Latar Belakang: Delirium merupakan sindrom neuropsikiatri akut yang sering dijumpai pada pasien dengan penyakit medis berat, termasuk keganasan stadium lanjut. Metastasis otak pada melanoma maligna memiliki insidensi yang tinggi (40-50%) dan sering memicu gangguan kognitif serta perilaku akibat efek massa, edema vasogenik, dan disregulasi neurotransmiter. Laporan kasus ini bertujuan untuk menganalisis diagnosis dan tatalaksana delirium hiperaktif pada pasien dengan metastasis melanoma maligna ke otak. Laporan Kasus: Seorang laki-laki berusia 51 tahun dirujuk dengan keluhan gelisah, bicara meracau, dan mengamuk sejak satu hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien memiliki riwayat nyeri kepala progresif, mual, muntah, dan penurunan berat badan yang drastis. Pemeriksaan status mental menunjukkan kesadaran berkabut, disorientasi waktu dan tempat, serta halusinasi visual. Hasil MRI kepala menunjukkan multiple lesi solid intraaksial yang disertai edema vasogenik luas dan perdarahan intraserebral (intracerebral hemorrhage) pada lobus frontalis, temporalis, parietalis, dan oksipitalis. Hasil biopsi kelenjar getah bening inguinal mengonfirmasi diagnosis melanoma maligna Clark level V. Berdasarkan temuan klinis dan penunjang, pasien didiagnosis dengan Delirium akibat Proses Intrakranial (F05.8). Penatalaksanaan: Pasien mendapatkan tatalaksana farmakoterapi berupa Haloperidol (injeksi 2,5 mg IM untuk agitasi akut, dilanjutkan 0,5-1 mg oral malam hari) dan Deksametason intravena untuk mengatasi edema serebri. Intervensi non farmakologis meliputi reorientasi realita secara persisten, modifikasi lingkungan, psikoterapi suportif, dan psikoedukasi mendalam kepada keluarga mengenai sifat organik dari gangguan perilaku pasien. Simpulan: Delirium pada kasus ini merupakan manifestasi langsung dari gangguan struktural dan neurokimia akibat metastasis melanoma maligna ke otak. Penatalaksanaan yang komprehensif melalui pendekatan farmakoterapi dan intervensi psikososial sangat penting untuk mengontrol gejala agitasi dan meningkatkan kualitas hidup pasien dalam fase perawatan paliatif.
