Delirium et causa Proses Metabolik pada Pasien Kanker Serviks Stadium IIIB dengan Penyakit Ginjal Kronik Stadium V: Sebuah Laporan Kasus

Authors

  • Ni Ketut Putri Ariani Author
  • Agustina Marielsa Magung Departemen Psikiatri Universitas Udayana Author
  • Ida Aju Kusuma Wardani Author
  • I Made Wedastra Author

Keywords:

Delirium, Gagal Ginjal Kronik, Haloperidol, Kanker Serviks, Proses Metabolik

Abstract

Latar Belakang: Delirium merupakan sindrom neuropsikiatri akut yang ditandai oleh fluktuasi kesadaran, gangguan atensi, dan disfungsi kognitif global, yang sering dijumpai pada pasien dengan penyakit fisik berat. Pada pasien dengan keganasan stadium lanjut disertai gangguan metabolik sistemik (khususnya gagal ginjal kronik) insidensi delirium meningkat signifikan akibat akumulasi toksin uremik, gangguan elektrolit, dan hipoksemia yang secara langsung memengaruhi fungsi serebral. Laporan Kasus: Seorang perempuan berusia 45 tahun dirujuk ke Instalasi Rawat Inap Psikiatri RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah dengan keluhan utama gaduh gelisah. Pasien memiliki riwayat Kanker Serviks Stadium IIIB dan Penyakit Ginjal Kronik (PGK) Stadium V yang menjalani hemodialisis rutin. Pemeriksaan status mental menunjukkan kesadaran berkabut (fluktuatif), disorientasi waktu dan orang, halusinasi visual, serta agitasi psikomotor yang nyata. Pemeriksaan penunjang mengonfirmasi uremia berat (ureum 51,3 mg/dL; kreatinin 6,72 mg/dL), anemia (Hb 8,9 g/dL), hipoalbuminemia, dan alkalosis respiratorik ringan. Skor Confusion Assessment Method (CAM) positif dengan skor 4 dan Richmond Agitation-Sedation Scale (RASS) +3. Berdasarkan keseluruhan temuan klinis dan penunjang, pasien didiagnosis dengan Delirium et causa Proses Metabolik (F05.8). Penatalaksanaan: Pasien mendapatkan tatalaksana psikofarmaka berupa injeksi Haloperidol 1,67 mg intramuskular untuk agitasi akut, dilanjutkan Haloperidol oral 1,25 mg tiap 12 jam yang diturunkan secara bertahap. Intervensi non-farmakologis meliputi psikoterapi suportif, reorientasi, modifikasi lingkungan, dan psikoedukasi intensif kepada keluarga. Setelah terapi dikombinasikan dengan penanganan medis primer (stabilisasi metabolik, hemodialisis, dan manajemen nyeri), terjadi perbaikan bermakna pada status kesadaran dan perilaku pasien dalam kurun waktu 48 jam. Simpulan: Delirium pada pasien ini merupakan manifestasi sindrom otak organik akut akibat akumulasi kumulatif faktor metabolik pada kondisi keganasan stadium lanjut. Pendekatan tatalaksana multidisiplin yang mengintegrasikan farmakoterapi psikiatrik, koreksi faktor presipitasi medis, dan intervensi psikososial terbukti efektif dalam mengendalikan gejala dan meningkatkan kualitas hidup. 

Published

2026-07-30