Psikosis pada Epilepsi: Tinjauan Pustaka Patofisiologi, Klinis, dan Tatalaksana Terkini

Authors

  • Lely Setyawati Kurniawan Departement Psikiatri, Universitas Udayana, Denpasar, Indonesia Author
  • I Gusti Ayu Eka Arirahmayanti Departement Psikiatri, Universitas Udayana, Denpasar, Indonesia Author
  • Ni Made Leni Departement Psikiatri, Universitas Udayana, Denpasar, Indonesia Author
  • Sahat Hamonangan Hariandja Kelompok Staf Medis Jiwa, Rumah Sakit Umum Daerah Mangusada Author

Keywords:

Epilepsi, Psikosis Interiktal, Psikosis Posiktal, Obat Antiepilepsi, Neuropsikiatri

Abstract

Latar Belakang: Penderita epilepsi tidak hanya menghadapi masalah kejang, tetapi juga rentan terhadap komorbiditas 
kejiwaan, khususnya psikosis, yang dapat memperburuk kualitas hidup dan respons mereka terhadap pengobatan. Risiko psikosis pada penderita epilepsi terbukti hampir delapan kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum, menjadikan psikosis sebagai penyerta psikiatri yang tidak dapat diabaikan dalam manajemen klinis. Tujuan: Tinjauan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai psikosis pada epilepsi, mulai dari definisi, epidemiologi, patofisiologi, gambaran klinis, hingga tatalaksana berbasis bukti. Metode: Makalah ini merupakan tinjauan literatur yang menyintesis data dari jurnal-jurnal medis bereputasi tinggi yang diterbitkan dalam lima tahun terakhir, mencakup studi meta-analisis dan kohort prospektif. Hasil Pembahasan: Psikosis pada epilepsi diklasifikasikan berdasarkan hubungan temporalnya dengan kejang menjadi psikosis iktal, posiktal, dan interiktal, serta psikosis akibat obat. Psikosis interiktal merupakan bentuk yang paling sering ditemukan. Patofisiologi gangguan ini melibatkan perubahan neuroimaging struktural, disfungsi neurotransmiter dopaminergik dan glutamatergik, serta faktor genetic. Diskusi: Manifestasi klinis sering kali menyerupai skizofrenia primer, namun umumnya menunjukkan pelestarian afek yang lebih baik dan gejala negatif yang lebih ringan. Diagnosis memerlukan pendekatan klinis cermat yang didukung oleh modalitas elektroensefalogram dan pencitraan otak. Kesimpulan: Psikosis pada epilepsi merupakan kondisi neuropsikiatrik yang kompleks. Pendekatan tatalaksana harus multidisiplin, mengintegrasikan optimalisasi obat antikejang dengan terapi antipsikotik yang aman dan tidak memiliki efek samping prokonvulsan yang tinggi, serta memperhatikan potensi interaksi farmakokinetik antar obat yang digunakan. 

Published

2026-07-30