Psikotik Akibat Zat: Tinjauan Komprehensif Patofisiologi, Diagnosis, dan Tata Laksana

Authors

  • Luh Nyoman Alit Aryani Author
  • Agustina Marielsa Magung Departemen Psikiatri Universitas Udayana Author
  • Lely Setyawati Kurniawan Author
  • I Made Wedastra Author

Keywords:

Konversi Skizofrenia, Patofisiologi Psikosis, Psikotik Akibat Zat, Substance-Induced Psychotic Disorder, Tatalaksana Psikosis

Abstract

Psikotik akibat zat atau substance-induced psychotic disorder (SIPD) merupakan gangguan psikiatri yang ditandai munculnya 
gejala psikotik meliputi halusinasi, waham, disorganisasi pikir, dan gangguan persepsi—yang berhubungan secara temporal dengan penggunaan zat psikoaktif, baik selama intoksikasi maupun withdrawal. Seiring meningkatnya prevalensi penggunaan zat psikoaktif secara global, SIPD menjadi tantangan klinis yang penting karena kedekatannya secara fenotipik dengan psikosis primer seperti skizofrenia. Tinjauan ini bertujuan merangkum patofisiologi, gambaran klinis berdasarkan jenis zat, kriteria diagnostik DSM-5/ICD-10/ICD-11, diagnosis banding, serta tata laksana farmakologis dan nonfarmakologis psikotik akibat zat. Secara neurobiologis, tiga jalur neurotransmiter utama terlibat: jalur dopaminergik (stimulan), serotoninergik (halusinogen klasik), dan glutamatergik (antagonis NMDA seperti ketamin dan PCP). Insidensi SIPD berkisar 9,3–14,1 per 100.000 orang-tahun dan menyumbang 6,5–10,3% dari seluruh kasus first-episode psychosis (FEP). Risiko konversi ke gangguan spektrum skizofrenia mencapai 32,2%, tertinggi pada psikosis akibat kanabis dan metamfetamin. Tata laksana meliputi stabilisasi akut, antipsikotik generasi kedua, benzodiazepin untuk agitasi, serta intervensi psikososial termasuk cognitivebehavioral therapy (CBT), motivational interviewing (MI), dan rehabilitasi komprehensif. Pemahaman mendalam mengenai SIPD sangat penting untuk deteksi dini, penegakan diagnosis yang akurat, serta pencegahan konversi ke gangguan psikotik kronik.

Published

2026-07-30